Setelah memeriksa keadaan dan belum menemukan keberadaan orang yang mereka cari, tanpa membuang waktu, ia kembali melesat, diikuti oleh keempat rekannya. Mereka berlari dengan penuh kemarahan. Rencana mereka menculik Li Wei, putri Walikota Huoling, telah gagal total.

Untuk menghindari kecurigaan dan menyembunyikan identitas mereka, dengan sengaja mereka bekerjasama dengan Gao Qian untuk menjalankan tugas rahasia. Gao Qian adalah penjahat yang bersembunyi dari kejaran berbagai pihak terutama pihak kerajaan, dan bersembunyi di hutan dekat kota Houling, tepatnya di hutan Fengling.

Gao Qian sendiri adalah salah satu orang yang berada dibawah perlindungan sekte mereka, dan sering memberikan upeti berupa batu spiritual atau wanita, terutama anak-anak muda yang memiliki bakat yang bagus untuk dilatih agar sekte mereka semakin berkembang.

Gao Qian juga masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pria yang saat ini sedang berlari cepat untuk melanjutkan misi yang gagal.

Putri Walikota Li Wei, seharusnya diculik saat dia mencari tanaman spiritual di dalam hutan, namun sesuatu terjadi, dan kini para prajurit Walikota terlihat menangkap anak buah Gao Qian serta menggiring mereka ke penjara. Hasil penyelidikan mereka mengungkap bahwa Gao Qian dan wakilnya lenyap tanpa jejak saat bertarung melawan Komandan Jiang, karena ada seseorang yang menolong mereka.

Dengan amarah membara, kelima orang itu mempercepat langkah mereka. "Misi ini belum selesai." batin mereka.

Zhou Rui, pria bertubuh tegap dengan bekas luka di pelipisnya, mendengus kesal. "Gao Zhen, kenapa kita tidak langsung menyerbu kediaman Walikota? Dengan tingkat kekuatan kita, membunuh mereka tidak lebih sulit dari menginjak semut."

"Bodoh!" Gao Zhen mendelik tajam. "Jika kita menyerang secara terbuka, pihak kerajaan akan segera mencium pergerakan kita. Jangan lupa, kita datang dari jauh ke kota kecil ini demi mendapatkan benda itu. Dan satu-satunya cara tanpa mereka menyadari sekte kita adalah menculik putrinya sebagai alat tukar."

Xu Wei, pria berwajah tirus dengan sorot mata penuh perhitungan, mengangguk pelan. "Lalu, setelah mendapatkan benda itu, apakah kita akan membebaskan mereka?"

Gao Zhen menyeringai dingin. "Tentu saja. Kita akan membebaskan mereka... dari dunia ini. Jangan tinggalkan saksi mata yang bisa mengacaukan rencana sekte. Jika kita gagal, Ketua tidak akan memberi kita ampun."

Xia Tao, pria bertubuh ramping dengan gerakan lincah, dan Huang Fei, yang berperawakan kekar dengan ekspresi selalu waspada, saling bertukar pandang. Mereka tahu betapa kejamnya sekte mereka jika misi gagal.

Mereka terus berlari, menembus lebatnya hutan belantara, bayangan mereka menghilang dalam kegelapan di balik pepohonan yang menjulang tinggi.

***

Setelah perjalanan beberapa hari, Jelita dan Li Wei tampak semakin akrab. Li Wei terus-menerus menceritakan keindahan tentang kerajaan Qingxuan, membuat Jelita terpesona. Lynx, yang berjalan di samping mereka, mendengarkan dengan seksama percakapan itu.

"Jadi, ada tiga benua di dunia ini: Benua Tianzhou, Benua Beihan, dan Benua Nanhang. Setiap benua memiliki beberapa kerajaan dengan tatanan pemerintahan untuk mengatur masyarakatnya," pikir Lynx dalam hati, merenungi informasi baru itu.

"Komandan Jiang, saya mendengar Nona Li Wei menyebut tentang tiga benua. Bukankah dulunya hanya ada satu daratan di sini?" tanya Lynx dengan rasa ingin tahu, mencoba mengingat kenangan leluhur Xiao Tang yang tidak menyebutkan tentang tiga benua.

"Heh, Xiao Ling, apakah kamu tidak mempelajari sejarah dunia kita?" Li Wei menyahut pertanyaan Lynx kepada Komandan Jiang, suaranya sedikit menggoda. "Dulu memang hanya ada satu daratan pada awal mulanya. Tapi sejak kejadian hilangnya sebagian wilayah dan pengaruh batu meteor, dunia kita terpecah belah dan mengalami kekacauan hingga akhirnya menjadi tiga benua," jelas Li Wei dengan nada sok menggurui, seolah-olah ia sedang memberikan pelajaran penting.

"Ternyata, ratusan tahun berlalu, sudah banyak hal yang terjadi di sini," pikir Lynx, merenungi perubahan besar yang dialami dunia.

Namun, tiba-tiba perasaannya terusik. Ia merasakan kehadiran sesuatu yang mengawasi mereka dari kejauhan. Dengan hati-hati, Lynx melepaskan energinya untuk merasakan keadaan di sekitar.

"Ada lima orang kultivator yang bersembunyi," pikirnya, menganalisis dengan tenang. "Ranah mereka paling lemah di Master Foundation Perak Pertengahan dan terkuat di Master Foundation Emas Hitam."

Meskipun menyadari ancaman tersebut, Lynx tetap berpura-pura tidak mengetahui keberadaan mereka. "Akan ada tontonan menarik," gumamnya dalam hati, "Aku harus mencari tahu, apa tujuan mereka sebenarnya." Dengan sikap tenang, Lynx bersiap mengantisipasi langkah selanjutnya, sembari tetap mengamati pergerakan orang-orang yang mengintai dalam bayang-bayang.

Beberapa saat sebelumnya, setelah berlari sekian jauh, Gao Zhen mulai dapat merasakan kehadiran beberapa orang yang berjalan dari arah hutan menuju kota Huoling.

"Aku menemukan mereka. Dari tingkat kultivasinya, aku yakin ini Komandan Jiang," kata Gao Zhen, matanya bersinar penuh keyakinan.

"Baguslah, kalian menyebarlah dan perhatikan sekitar dengan baik. Kita akan tunggu mereka di sini sambil melihat apakah orang yang menolong mereka ada bersama mereka," timpal Xu Wei, menyiapkan strategi.

Dengan cepat, mereka berlima menyebar untuk memantau situasi. Meski level Komandan Jiang berada di bawah mereka, namun hilangnya Gao Qian membuat mereka harus lebih waspada.

Tak berapa lama, terlihat rombongan yang berjalan di tengah hutan, terdiri dari seorang pemuda, dua wanita, dan enam prajurit berpakaian seragam.

Xia Tao bergerak mendekati Gao Zhen. "Bagaimana selanjutnya?" tanyanya, suaranya penuh antisipasi.

"Ikuti aku!" jawab Gao Zhen, memberi kode dengan gerakan tangannya kepada rekan-rekannya yang lain.

Tanpa buang waktu, mereka bergerak cepat, berlari untuk mengepung rombongan Xiao Ling.

Sementara itu, Komandan Jiang merasakan fluktuasi energi yang kuat dari beberapa orang yang mendekat. Insting kultivasinya yang tajam segera terpicu.

"Berhenti! Waspadalah," perintahnya dengan tegas, sambil menghunus pedangnya. Matanya tajam mengawasi sekeliling, siap menghadapi ancaman yang mendekat.

"Ada apa, Paman Jiang?" tanya Li Wei, heran melihat perubahan suasana yang mendadak.

"Ada beberapa orang mendekat, dan mereka berada di level Master Foundation!" jawabnya dengan nada tegang, membuat semua orang di rombongan itu terdiam waspada.

"Bagaimana orang-orang sekuat mereka bisa datang ke kota ini? Apakah ada hubungannya dengan Gao Qian?" pikir Komandan Jiang, mencoba mengaitkan hubungan penculikan dengan kejadian yang sedang mereka alami di dalam pikirannya.

Melihat semua orang bersiaga, Jelita dan Xiao Ling segera mengeluarkan pedang mereka juga, "Hati-hatilah, Yun Qing. Mereka bukanlah tandingan komandan Jiang." bisik Lynx.

"Jika seperti ini, akan sulit bagiku menyembunyikan kekuatanku. Terlalu bahaya juga jika aku hanya berdiam diri." Batin Lynx setelah menyadari niat buruk orang yang menghadang mereka.

Yun Qing menganggukkan kepalanya, menandakan dia mengerti situasinya. Semua orang dalam rombongan itu meningkatkan kewaspadaan mereka, bersiap menghadapi kemungkinan pertempuran.

Melihat kemunculan mereka berlima, Komandan Jiang menyipitkan matanya, menilai ancaman yang ada di hadapannya. "Kekuatan mereka tidak bisa dianggap remeh. Mereka menyembunyikan level kekuatan mereka, tapi aku yakin mereka berada di Master Foundation. Aku harus memprioritaskan keselamatan Nona Li Wei," batinnya, penuh kewaspadaan.

Dia berbisik pelan kepada Lynx, "Xiao Ling, kemungkinan mereka menghalangi kita dengan niat buruk, kita tidak akan mampu melawan mereka. Jika keadaan memburuk, bawalah pergi Nona Li Wei. Aku akan menahan mereka."

Li Wei, yang mendengarnya merasa tidak terima, dia membalas dengan nada marah, "Aku tidak mau! Aku akan tetap bersama Paman Jiang. Aku bukan pengecut."

Komandan Jiang mencoba meyakinkannya. "Nona Li Wei, keselamatanmu paling penting. Kamu harus memberikan bunga Moon Spirit Herb untuk kesembuhan Nona Li Mei. Jadi pergilah jika keadaan memburuk."

Mendengar itu, Li Wei terdiam, menyadari kebenaran dibalik kata-kata komandan Jiang.

"Baiklah komandan Jiang," Jawab Lynx menyetujuinya,

Gao Zhen, yang kini berdiri di hadapan mereka, tertawa keras. "Komandan Jiang, tidak kusangka bisa bertemu denganmu hari ini," katanya, suaranya penuh ejekan. "Dan tentunya Nona Li Wei, anak tersayang Walikota Huoling," lanjutnya dengan tawa kasar.

Komandan Jiang tidak terkejut mereka bisa mengenali dirinya dan Li Wei. "Sesuai dugaanku, mereka memang sengaja berada disini dan mencegat perjalanan kami karena memiliki maksud tertentu," pikirnya dengan was-was.

